Beranda > Dunia Kampus > Soal Ranking-rankingan PT di Indonesia

Soal Ranking-rankingan PT di Indonesia


Beberapa waktu yang lalu muncul sebuah publikasi yang memuat ranking PT di Indonesia versi majalah Globe Asia. Saya belum lihat langsung majalahnya, cuma mengikuti saja dari berita di internet dan juga berbagai komentar di milis.

Memang menjadi sebuah publikasi yang sangat kontroversial ketika UPH (Universitas Pelita Harapan) di posisikan jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa PTN dan PTS ternama. Akhirnya kemudian terkuat berbagai analisis yang memuat skenario dibalik kemunculan publikasi tersebut, antara lain untuk kepentingan promosi UPH itu sendiri mengingat owner dari majalah Globe Asia ternyata adalah groupnya Lippo, owner yang sama dengan UPH.

Saya sempat membaca komentar tertulis pada sejumlah koran, bahkan ada komentar dari tokoh reviewer dan pendidikan nasional yang meragukan teknik pengukuran yang dilakukan oleh Globe Asia. Saya kira siapapun yang mengenal UPH akan tahu persis dimana posisi UPH sebenarnya diantara sekian banyak PTN dan PTS. Jadi sangat kentara sekali nuansa promosi UPHnya. Malah akhirnya menjadi bumerang bagi UPH itu sendiri.

Berikut ini satu komentar dari sekian komentar yang muncul seputar ranking-rankingan PT di Indonesia, khususnya menanggapi versi Globe Asi

================================================

Buble Information Marketing PTS Konglomerat, Bentuk Penipuan Baru.

Oleh Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD
Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI

Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN – PTN terkemuka maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia. Sebagai contoh, total score UPH (356) "diposisikan" mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB (296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS (258). UPH juga "diposisikan" mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR (230), dan PETRA (151).

Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka saya merasa aneh dengan "pemosisian" ranking oleh Globe Asia tersebut. Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun "mirip" dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi memberi "bobot" yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%, sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar "apple to apple" (kesederajatan).

Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri (DIKTI), regional asia (Asia University Network, AUN), maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo). Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang "logis secara akademis". Artinya adalah bahwa kriteria tersebut(meskipun bervariasi) adalah memang benar-benar akan menunjukkan "jaminan mutu" dari input, proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan "kemewahan lifestyle" sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.

Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi suatu bentuk "penipuan" informasi yang bersifat "buble" kepada publik, khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis secara "tidak kritis" oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.

Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah menjadi komoditas yang "empuk" untuk menaikkan status sosial pemilik hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka pendidikan juga dikelola dengan image "Lifestyle" (gaya hidup), bukan dengan image "Qualistyle" (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking sesuai dengan "Strength" yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan "Weakness" yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu dicapai dengan memuaskan.

Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49 Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank adalah sistem dunia yang dianggap "paling sederhana".

Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara – cara tidak "fair" dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain : tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu Perguruan Tinggi.

Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa dilihat salah satunya dengan kriteria akreditasi yang logis secara akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis.

Powered by Qumana

About these ads
Kategori:Dunia Kampus
  1. dimas
    5 Maret, 2008 pukul 9:35 am

    aduh… kenapa sih ngeributin masalah ranking…. kenapa tidak mengakui saja bahwa PTN dan PTS di Indo memang blom layak di sejajarkan dgn PT PT di dunia…. dengan NUS atau NTU saja jauh…..UI saja blom masuk dlm kategori research uni…. dosen2 nya aje maseh pada ambil S2/S3 di LN..udeh… mendingan perbaiki diri dulu baru mikirkan ranking…

  2. 6 Maret, 2008 pukul 1:09 am

    wee…nama saya saya kog ada yang ngembarin yah..
    ranking itu penting..biar bisa terkenal..
    contohnya..klo saya ketik di google “dimasshogun”
    nomer 1 munculnya..hehehe

    UII ranking berapa pak??
    boleh request gak pak?klo boleh loh pak..minta tolong di add di blogroll

    http://blog.dimasshogun.com

    terima kasih pak..

  3. dimas
    6 Maret, 2008 pukul 12:47 pm

    hi pak dimasshogun!!! mixed with japanese neh??
    ah.. kasihan yha universities di Indo gak ada yg terkenal di dunia. Lihat di Times Higher Education Award : 200 universities in the world. ada gak yha univesities di indo masuk kategori itu?? kebetulan anak saya dan keponakan tidak diterima di UI n ITB tp malah anak diterima di Univ of Michigan dan keponakan dpt bea siswa di NTU… kwek kwek kwek……..wah… malah ketemu dosen2 dr Indo yg kuliah S2/S3 ber-bondong2 sama keluarga….iyha gak?? kasihan deh……jadi gak perlu mikirkan ranking dulu lah………

  4. 14 Maret, 2008 pukul 9:55 am

    Ya..malah UPH yang kena getahnya. Selama lembaga pendidikan tidak berpihak pada kepentingan publik, dgn sendirinya ia akan hancur dimakan waktu.

  5. clow in da haus
    19 Maret, 2008 pukul 6:08 am

    aduh..boro2 mikirin ranking, SPMB aja msh ribut..mbok dibebaskan saja universitas menerima mahasiswanya sendiri seperti di USA, INGGRIS,AUSSIE, S’PORE dll. Nggak ada tuh namanya test masuk perguruan tinggi, tinggal lihat nilai raport dan kalau kita orang asing di USA, score TOEFL min 550 jg SAT dgn nilai score tertentu. Lagipula system pindidikan dasar kita juga tidak bener… bisa dimainkan juga tuh nilai2 anak didik kalo penilaian b’dasarkan raport….. pusing….negara ini sudah salah asuh dari awal…..Habis UUD sih, ujung ujung nya duit melulu..

  6. firti rasmita
    21 April, 2008 pukul 6:54 am

    ranking perlu untuk mengevaluasi proses, output dan outcomes. Apa benar UPH sudah memenuhi kebutuhan stake holders. kadang-kadang PT sering lupa bahwa ketersediaan database yang lengkap akan menjadi acuan untuk melihat PBM, mungkin saja hal ini belum dilakukan oleh PTN sedang PTS sudah memilikinya jauh sebelumnya. Jadi tolong databasenya diperhatikan agar dapat diupload dan bisa diakses oleh seluruh dunia.

  7. Falculus
    3 Mei, 2008 pukul 8:35 am

    memang sbenarnya masalah peringkat tidak usah dibahas…akan tetapi sebenarnya inti yang dipersoalkan adalah menyangkut bentuk promosi dunia pendidikan dengan modus penipuan, dalam hal ini bersifat massal. kalo memang ada PT yang hebat secara kualitas, tentu tidak perlu menggunakan promosi ala tukang obat pinggir jalan. intinya bukan masalah PTN atau PTS. Harvard aja yg swasta diakui diseluruh dunia. logiskah satu PT (milik elit) yang mengklaim dirinya terbaik melalui sistem pemeringkatan yang mekanismenya dipertanyakan diseluruh negeri. padahal Binus, Trisakti atau Parahiyangan yang masih kelihatan peran lulusannya, tidak pernah melakukan promosi seperti itu.intinya apa yg dilakukan Globe Magz merupakan penipuan publik yang efeknya merendahkan PT yang lain di Indonesia.

  8. reyka
    25 Februari, 2009 pukul 10:44 am

    klo tidak salah score uii dr BAN, 361.. berarti masih di atas UPH..
    liat aja di situs resmi uii

  9. 18 November, 2010 pukul 7:22 am

    nice…
    salam kenal……..

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: