Beranda > Umum > Adversity Quotient (AQ)

Adversity Quotient (AQ)


Selain, HQ, EQ, ESQ …. eh ternyata ada juga yang disebut dengan AQ. Dalam tulisan sebelumnya (http://prayudi.wordpress.com/2007/05/08/q-pada-esq-dan-hq/), disebutkan tentang makna Q yang sebenarnya, sehingga tidak cocok untuk digunakan pada akronim diatas.

Manusia pada prinsipnya dilahirkan untuk memiliki sifat mendaki.  Pendakian ini maknanya adalah bergerak untuk mencapai tujuan hidup kedepan. Maka Adversity Quotient (AQ) adalah penentu kesuksesan seseorang untuk mencapai puncak pendakian. Secara naluri, dalam proses untuk melakukan pendakian akan dihadapkan pada berbagai hambatan, tantangan dan kesulitan. Semuanya ini tidak cukup diselesaikan dengan hanya bermodalkan kecerdasan intelektual tetapi juga perlu dengan bantuan  kecerdasan emosional. Maka AQ memperlihatkan bagaimana seseorang merespon kesulitan serta perubahan-perubahan yang dihadapinya.

Orang yang memiliki AQ tinggi tidak akan pernah takut dalam menghadapi berbagai tantangan dalam proses pendakiannya. Bahkan dia akan mampu untuk mengubah tantangan yang dihadapinya dan menjadikannya sebuah peluang. (he..he.. jadi ingat wise words yang saya tulis tadi siang nih..: http://prayudi.wordpress.com/2007/05/10/wise-words-1/

Maka berdasar AQ, terdapat tiga kelompok manusia, yaitu :

  1. Quitters. Adalah orang yang langsung berhenti di awal pendakian. Mereka cenderung untuk selalu memilih jalan yang lebih datar dan lebih mudah. Mereka umumnya bekerja sekedar untuk hidup, semangat kerja yang minim, tidak berani mengambil resiko, dan cenderung tidak kreatif. Umumnya tidak memiliki visi yang jelas serta berkomitmen rendah ketika menghadapi tantangan dihadapan.
  2. Campers. Adalah orang yang berhenti dan tinggal di tengah pendakian. Mendaki secukupnya lalu berhenti kemudian mengakhiri pendakiannya. Umumnya setelah mencapai tingkat tertentu dari pendakiannya maka fokusnya berpaling untuk kemudian menikmati kenyamanan dari hasil pendakiannya. Maka banyak kesempatan untuk maju menjadi lepas karena fokus sudah tidak lagi pada pendakian. Sifatnya adalah satisficer, merasa puas diri dengan hasil yang sudah dicapai.
  3. Climbers. Orang yang berhasil mencapai puncak pendakian. Mereka senantiasa terfokus pada usaha pendakian tanpa menghiraukan apapun keadaan yang dialaminya. Selalu memikirkan berbagai macam kemungkinan dan tidak akan pernah terkendala oleh hambatan yang dihadapinya. Mundur sejenak adalah proses alamiah dari pendakian, dan mereka senantiasa mempertimbangkan dan mengevaluasi hasil pendakiannya untuk kemudian bergerak lagi maju hingga puncak pendakian tercapai.

Untuk mengukur seberapa besar ukuran AQ kita, maka dapat dihitung lewat uji ARP (Adversity Response Profile). Terdapat sejumlah pertanyaan yang kemudian dikelompokkan kedalam unsur Control, Origin and Ownership, Reach dan Endurance, atau dengan akronim CO2RE. Dari situ barulah kemudian akan didapat skor AQ kita, dimana bila skor (0-59) adalah AQ rendah, (95-134) adalah AQ sedang, (166-200) adalah AQ tinggi. Skor (60-94) adalah kisaran untuk peralihan dari AQ rendah ke AQ sedang dan kisaran (135-165) adalah peralihan dari AQ sedang ke AQ tinggi.

(dirangkum dari  buku character building : Ubinus)

About these ads
Kategori:Umum Tag:
  1. Beny
    27 September, 2007 pukul 5:02 am

    assalamualaikum…
    salam kenal pak Prayudi. saya Beny, kebetulan saya sedang mencari literatur mengeni adversity quotient, membaca tulisan Bapak saya tertarik sekali dan jika tidak berkeberatan mohon rekomendasi buku/judul buku mengenai adversity quotient (khususnya yang sudah beredar di Indonesia).
    terimakasih banyak untuk kesediaan bapak membaca email ini dan memberikan rekomendasi tersebut.
    wassalamualaikum wr.wb.

  2. prayudi
    27 September, 2007 pukul 5:07 am

    wah saya sebenarnya tdk begitu memahami ttg AQ, cuma kebetulan ada buku character building terbitan Binus dimana didalamnya ada menyinggung masalah AQ. Jadi mungkin bisa mencari literatur yg ada di buku character buildingnya Binus

  3. za...
    25 Maret, 2008 pukul 8:25 am

    sebenarnya za lagi nyari data tentang adversity yang lengkap banget…
    and waktunya mendadak banget jadi boleh minta data yang lengkap tentang adversity ?

  4. zakia
    25 Maret, 2008 pukul 8:36 am

    makasih banget pakj atas blognya, karena bapak telah membantu tugas kami. saya sangat bingung sekali. karena saya tidak dapat mendapatkan data lain yang bagus tentang adversity.

    pak, kalo boleh saya benar – benar membutuhkan data = data tentang adversity sekarang banget. karena tugas kami dikumpulkan besok. plaese pak……bisa dikirim ke email ini. atau bagi semua teman-teman yang mempunyai data tentang adversity.

  5. zakia
    25 Maret, 2008 pukul 8:39 am
  6. Anonymous
    9 Juni, 2008 pukul 1:31 am

    selamat pagi pak prayudi..
    salam kenal.. saya mahasiswi semester 8 fakultas psikologi unair. kebetulan sekali skripsi saya meneliti tentang adversity quotient.. saya mengharapkan sekali bapak berkenan membantu saya dalam memberikan informasi mengenai adversity quotient. dan saya juga membutuhkan data2 yang berhubungan dengan AQ.. saya sangat berterima kasih sekali apabila bapak mau membantu saya dalam memberikan data2. bapak bisa mengirimkan data tersebut ke email saya di curly_zone@yahoo.com

    saya tunggu email dari bapak..
    terima kasih..

  7. welia
    14 September, 2008 pukul 3:01 pm

    ass. pak prayudi saya mahasiswi pikologi, saya ingin bertanya mengenai AQ secara mendalam, dan apakah AQ bisa berkaitan dengan psikologi klinis? dan kayanya saya tertarik mengenai AQ, kira-kira sampel yang cocok untuk penelitian saya apa ?saya berharap bapak bisa membantu saya secepatnya. trims

  8. welia
    14 September, 2008 pukul 3:03 pm

    Ass pak saya mahasiswi psikologi, saya tertarik membahas AQ secara mendalam, saya ingin tanya apakah AQ bisa berkaitan dengan psikologi klinis, dan kayanya saya tertarik melakukan skripsi mengenai AQ, kira-kira sampel yang cocok untuk penelitian saya apa ya? saya berharap bapak bisa membantu saya secepatnya…trims

  9. prayudi
    14 September, 2008 pukul 3:27 pm

    terima aksih mbak Welia atas kunjungannya, namun mohon maaf saya tdk memenuhi permintaan anda, background saya adalah bidang komputer, jadi saya tidak bisa menjawab apa yang mbak tanyakan.

  10. 20 September, 2008 pukul 2:13 am

    terima kasih.adanya artikel ini saya bisa nyelesain tugas psikologi umum
    *psikologi ums 08

  11. Neni
    25 Oktober, 2008 pukul 9:30 am

    Wah.. apakah saya boleh minta rekomendasi buku tentang adversity quotient yang lengkap pak?
    Saat ini saya sedang penelitian tentang topik tersebut. Mohon dengan sangat bantuannya. Terimakasih

  12. Harumi
    11 November, 2008 pukul 4:51 am

    assaamu’alaikum
    Pak, saya minta referensi buku-buku tentang AQ, butuh data dan informasi lengkap. Minta tolong nggih pak. Oya, kalau bisa yang berbahasa Indonesia saja. Maturnuwun bantuannya.

  13. 3 Desember, 2008 pukul 1:39 pm

    tinjauan buku Adversity Quotient dapat dilihat disini http://mitrariset.blogspot.com/2008/10/buku-adversity-quotient.html

  14. 15 April, 2009 pukul 7:05 am

    SALAM KENAL. pak saya dari INERSOUL yaitu lembaga pengembangan diri, kami punya metode dengan PSIKOLOGI, SPIRITUAL, HYPNOSIS untuk tiap sesi yang kami lakukan. kalau blh saya dikasih tahu semua referensi tentang AQ, krn saya sudah tahu cara meningkatkan AQ tapi tdk pny referensi teorinya. krn saya dapatkan secara otodidak dan materi waktu diperkuliahan. MOHON BANTUANNYA terima kasih.

  15. 15 April, 2009 pukul 7:08 am

    dan saya lg menyusun program pelatihan “ESA”. oh ya email saya arya_inersoul@yahoo.co.id.

  16. dhorey
    9 Februari, 2010 pukul 2:53 pm

    saya mau jawab petanyaan welia. adversity quotient bisa diteliti dengan bidang psi. klinis kok. karena skripsi di kampus saya ada penelitian yang menghubungkan antara AQ dengan coping stress.

  17. sheela
    5 Oktober, 2010 pukul 2:09 pm

    pak saya sedang menyusun skripsi yang berkaitan dengan AQ. apakah saya dapat meminta data ataupun refrensi terkait dengan AQ. jika memang bisa saya minta di kirimkan ke email ini.

  18. Yoseph
    31 Januari, 2012 pukul 2:28 am

    Ada buku menarik tentang AQ
    Judul: Adversity Quotient (Mengubah Hambatan Menjadi Peluang)
    Author: Paul G. Stoltz, PhD
    Penerbit: Grasindo

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: