Arsip

Archive for 2 April, 2007

DRM

 

Pertumbuhan yang cepat dan saling melengkapi antara sistem dan jaringan komputer,  kompresi data, teknologi streaming media, telah menjadikan media internet sebagai channel yang paling efisien untuk distribusi materi digital. Berbagai bentuk materi digital seperti: musik, image, video, buku dapat dengan mudah didistribusikan lewat internet, extranet, kabel, broadcasting, atau satellites langsung ke end user/consumer. Hal tersebut telah memunculkan trend baru  terkait dengan  internet service-driven economy.

Distribusi materi digital memerlukan suatu infrastruktur yang akan membentuk value chain yang melibatkan proses control, create, market, dan maintain business rules dari setiap materi digital baik lewat jaringan public atau private. Salah satu istilah yang muncul kemudian adalah content management, yaitu suatu mekanisme untuk menyimpan materi digital serta control untuk search, browsing, access, dan retrieval oleh users baik secara individu, kelompok atau institusi/perusahaan.

Sejumlah service providers telah mulai menjual produk materi digitalnya secara langsung lewat internet. Namun demikian sejumlah kemudahan dalam dalam proses copy dan distribusi materi digital bila tidak disertai manajemen serta mekanisme proteksi dapat dengan mudah  mengalami berbagai aspek yang terkait dengan penggunaan secara illegal. Sony sebagai salah satu produser materi digital telah mendeteksi bahwa antara bulan April-Juni 2002 kerugian bisnis musik digital yang dijalankannya terkait dengan digital piracy bernilai sekitar $160 million.

Untuk proteksi bisnis komersial dan perlindungan hak cipta serta mencegah pembajakan (digital piracy) maka diperlukan suatu sistem yang dapat mencegah akses dan penggunaan illegal dari materi digital serta manajemen terhadap copyright untuk penggunaan yang legal.  Digital Rights Management (DRM) adalah suatu system yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan pengaturan akses dan distribusi materi digital yang menjamin hak dan kewajiban antara pemilik (creator), penerbit (publisher) , penjual (seller) dan pengguna ( consumer ).

Industri di bidang media dan hiburan akan memperoleh manfaat yang utama dari teknologi DRM. Sementara dengan adanya berbagai dokumen elektronik yang diakses dan didistribusikan lewat internet maka industri yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, keuangan, hukum dan penelitian akan menjadi pengguna potensial untuk teknologi DRM.

W3C (World Wide Web Consortium) telah mengadakan workshop tentang DRM pertama kali pada bulan Januari tahun 2001. Definisi yang disepakati oleh W3C tentang DRM adalah “digital management of rights“, dan bukannya “management of digital rights”. Lingkup dari DRM adalah meliputi deskripsi, identifikasi, trading, proteksi, monitoring dan tracking dari semua bentuk penggunaan Right dari suatu materi digital serta catatan manajemen bagi pemilik Right. DRM juga meliputi teknik, proses, prosedur dan algoritma dari mulai proses penyiapan hingga distribusi yang terhubung dengan suatu infrastruktur dan komputasi yang aman dan terpercaya. DRM juga menyangkut mekanisme untuk perlindungan terhadap berbagai kemungkinan penggunaan materi digital.

Topik utama dari DRM adalah berkaitan dengan lisensi digital. Bila seseorang membeli suatu materi digital, maka akan diberikan suatu lisensi yang terkait dengan hak dan kewajibannya. Dalam hal ini lisensi akan berbentuk file data digital yang berisi sejumlah aturan tentang penggunaan materi digital tersebut. Aturan dapat berupa sejumlah kriteria, misalnya : batas akhir penggunaan (expiration date), larangan untuk melakukan transfer ke media lain, ijin melakukan copy, dll. Kriteria tersebut dapat dikombinasikan sesuai dengan model bisnis yang disepakati, misalnya: meminjam (rental), mencoba (try before use), membayar per penggunaan (pay per use).

Menurut Liu , terdapat tiga entitas utama dalam konsep DRM, yaitu: User, Content dan Right. User adalah fihak yang menghasilkan atau menggunakan materi digital,  dapat berupa penerbit, perusahaan rekaman, perusahaan film, instansi atau individu sebagai end-user cunsumers. Content adalah segala bentuk materi digital yang didistribusikan. Sedangkan right adalah terkait dengan ijin, batasan, kewajiban yang disertakan kepada content dan mengikat kepada user.

Sementara itu entitas Right adalah ekspresi dari sejumlah aturan yang disertakan kepada materi digital. Paling tidak terdapat empat ekspresi dasar dari Right meliputi ijin penggunaan (usage permissions), batasan (constraint), kewajiban (obligations), serta pemegang hak (right holder).

Usage Permissions ; 

apa yang diijinkan kepada pengguna

Constraints

batasan terhadap ijin yang diberikan

Obligations

apa yang harus dilakukan / disiapkan / diterima

Rights Holders

siapa yang berhak dan atas apa

Proses dasar DRM secara umum akan melibatkan 4 komponen: penyedia jasa (content provider), distributor, tempat transaksi (clearing house) dan pengguna (consumer). 

Content Provider: Adalah fihak yang memegang hak cipta dan berkepentingan langsung terhadap proteksi dan perlindungan semua produk materi digital.

Distributor: Bertanggung jawab terhadap channel distribusi, misalnya online shop atau web retailer. Distributor akan menerima materi digital dari content provider  kemudian akan membuat catalog untuk kepentingan promosi.

Pengguna/Consumer Adalah fihak yang menggunakan sistem untuk menikmati / menggunakan semua materi digital dengan cara mendapatkannya secara download atau streaming lewat channel distribusi serta kemudian membayar lisensi digital yang menjadi kewajibannya.

Clearing House Menangani transaksi financial terhadap segala penggunaan lisensi oleh pengguna serta mengatur pembayaran royalty kepada content provider serta jasa distribusi kepada distributor juga royalty untuk setiap aplikasi yang digunakan untuk menikmati materi digital oleh pengguna. Selain itu juga bertanggung jawab terhadap pembukuan dari semua penggunaan lisensi oleh setiap pengguna.

 

Penelitian IAIN

2 April, 2007 6 komentar

http://litagama.org/Jurnal/edisi4/jamaah.htm

AKTIVITAS JAMA’AH TABLIGH DI MEDAN DALAM TRANSFORMASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM

Suprayetno W.

The significance of this research is to explore the Jama’ah Tabligh activities from the psychological aspects of its members in transforming Islamic values, this due to the fact that religious attitudes of individual also affect their attitudes and behaviors in any aspect of lives including deciding on career. Moreover, religious commitment is not created in social vacuum, the living environment gives significatnt contribution on the individual attitudes and behavior. Therefore research on religious life of individual cannot be based merely on their involvement in such religious group, because religious movement is just one of the various types of social movement. This research explores the activities of Jama’ah Tabligh in Medan in transforming Islamic values based on the fenomenologi and psychological approach.

Term Kunci:

Ritual tetap menjadi suatu topik yang penting, dalam kajian keagamaan dan budaya, baik hal ini dimengerti sebagai simbol aksi tertentu, suatu bentuk dari tingkah laku khusus, atau suatu praktek budaya khusus tertentu. Ritual semakin dianggap memiliki peranan dalam membentuk pribadi individu dan dunia sosial.

Telah difahami bahwa masyarakat dan agama saling pengaruh dan mempengaruhi satu sama lain, hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki karakteristik keagamaan yang berbeda, meskipun mereka menganut agama yang sama. Fakta yang menarik untuk dikaji dalam hal ini Jama’ah Tabligh salah satunya ialah bahwa keanggotaannya terdiri dari berbagai lapisan sosial dan bahkan berbagai mazhab dan organisasi.

Penelitian pergerakan keagamaan tidak dapat hanya didasarkan pada keikutsertaan individu dalam suatu kelompok keagamaan. Sebab pergerakan keagamaan merupakan salah satu kasus dari pergerakan sosial dalam berbagai tipe. Di sinilah letak salah satu urgensi penelitian ini yang akan mengeksplorasi aktifitas Jama’ah Tabligh dari aspek-aspek psikologis para anggotanya dalam transformasi nilai-nilai keislaman, sebab sikap keberagamaan seseorang juga mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang termasuk juga pemilihan karir.

Oleh sebab itu penelitian juga akan mengungkapkan bagaimana ritual doktrin yang diajarkan oleh Jama’ah Tabligh dapat membentuk sikap dan prilaku jama’ahnya.

Masalah pokok penelitian ini difokuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana gerakan dakwah Jama’ah Tabligh berbeda dengan yang lain.

  2. Bagaimana aktifitas/budaya ritual dan metode dakwah yang digunakan Jama’ah Tabligh dalam mentransformasikan nilai-nilai agama Islam di masyarakat Medan?

  3. Bagaimana tanggapan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Jama’ah Tabligh?

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Mengungkapkan secara analitis eksistensi Jama’ah Tabligh di Medan.

  2. Mengungkapkan aktifitas-aktifitas/ritual Jama’ah Tabligh di Medan.

  3. Mengungkapkan dan menganalisa secara kritis tanggapan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Jama’ah Tabligh.

Kegunaan penelitian adalah untuk memberikan kontribusi sebagai berikut :

  1. Memperkaya khazanah keilmuan dan kajian Islam dalam bidang isntitusi, dakwah dan kemasyarakatan.

  2. Dapat digunakan sebagai metode dalam transformasi nilai-nilai agama Islam kepada masyarakat.

  3. Dapat digunakan untuk merumuskan metode transformasi nilai-nilai agama Islam kepada masyarakat Medan.

  4. Diharapkan dengan metode yang tepat guna dan berdaya guna, masyarakat Islam mampu mengaplikasikan semua ajaran Islam sehingga tercapai masyarakat yang beriman dan taqwa dan selanjutnya mampu membawa bangsa Indonesia membentuk masyarakat madani yang dicita-citakan.

Kajian Teoritis

Membicarakan aktifitas suatu lembaga agama tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan aktifitas keagamaan lembaga tersebut maupun aktifitas keagamaan individu yang berada di dalamnya. Secara psikologis aktifitas atau tingkah laku seseorang merupakan refleksi faktor-faktor psikologis yang mendasarinya. Dengan demikian aktifitas keagamaan seseorang juga dipengaruhi oleh proses yang dialaminya dalam memeluk suatu agama. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang beragama.

Karena faktor sosial, misalnya karena didikan orang tua, tradisi sosial, tekanan dari lingkungan sosial.

Karena pengalaman dan kebutuhan:

  • Alam, misalnya karena terinspirasi dari berbagai peristiwa alam atau keharmonisan alam.

  • Moral, misalnya karena konflik moral yang terjadi di dalam diri. Hal ini dapat menjadikan dualisme dalam sikap dan tingkah laku seseorang.

  • Perasaan, misalnya pengalaman batin yang langsung berhubungan dengan hal-hal yang bersifat ketuhanan.

Karena ketidakpuasan terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sehingga menimbulkan rasa kebutuhan akan kepuasan melalui jalan agama.

Karena alasan-alasan ilmiah.

Dalam kehidupan seseorang agama bukanlah hal yang diterima begitu saja, ia tumbuh dan berkembang sejak masa kanak-kanak. Bahkan banyak hal dalam keberagamaan seseorang merupakan hasil konvensi sosial dari masyarakat tempat ia hidup. Dalam kenyataannya penanaman ide-ide keagamaan dilakukan dengan pengajaran dan pendidikan lebih dahulu dan seiring dengan perkembangan jiwa seseorang barulah kemudian argumen rasional tentang kebenaran suatu agama muncul.

Dari sisi psikologis, kajian tentang transformasi nilai-nilai keagamaan dan juga aktifitas-aktifitas keagamaan yang dilakukan oleh seseorang atau suatu lembaga tidak dapat dilepaskan dari peranan sugesti yang biasanya berbentuk:

Penguatan yang berulang-ulang.

Peningkatan daya sugesti dengan menaikkan wibawa atau martabat pemuka agama (misalnya dengan memakai pakaian khusus), dapat juga ditingkatkan dengan menyediakan situasi sosial tertentu (misalnya dengan mengumpulkan sejumlah orang untuk melakukan ritual-ritual tertentu).

Faktor lain yang berkaitan dengan aktifitas individu dalam kelompok keagamaan adalah keterikatannya dengan lembaga tersebut secara fisis dan psikis. Keterikatan seseorang dengan kelompok atau lembaga keagamaan dapat dibagi atas dua macam. Pertama ikatan terhadap kelompok merupakan keterikatan secara fisik dan berlangsung sementara waktu. Kedua kelompok yang tidak membutuhkan keterikatan fisik tapi tetap terikat secara psikis. Namun keduanya memiliki pengaruh yang sama, yakni mampu mensugesti dan membuat anggotanya menganut suatu kepercayaan dan dan berprilaku sesuai dengan visi, misi, ciri khas dan tuntutan kelompok. Namun hasil akhirnya tidaklah sama, dengan kata lain, dari sisi anggota proses ini menghasilkan salah satu dari dua kategori berikut ini.

  • Anggota memulai suatu kehidupan yang baru dengan orientasi hidup yang baru, efek ini akan membentuk suatu kebiasan baru juga.

  • Anggota hanya melakukan ritual karena sentuhan emosi, efek ini tidak akan bertahan lama atau dengan kata lain akan memudar.

Dalam hal pengaruh sosial dan lembaga terhadap aktifitas dan prilaku keagaamaan seseorang ada beberapa aspek penting yang patut diperhatikan.

Penyesuian diri.

Penyesuaian diri terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam kelompok (tertulis maupun tidak) merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan, sebab norma-norma tersebut yang menentukan bagaimana seseorang harus berprilaku sehingga tanpa penyusuaian tersebut kelompok akan hidup dalam kekacauan sosial.

Kesediaan diri, yakni kesediaan diri seseorang untuk merubah berbagai aspek tingkahlakunya agar sesuai dengan tujuan kelompok. Beberapa prosedur yang sukses digunakan dalam hal ini antara lain:

Kepatuhan terhadap aturan-aturan kelompok. Hal yang perlu diingat bahwa kepatuhan yang ditunjukkan seseorang terhadap suatu kelompok tidak selalu bertahan selamanya, kepatuhan-kepatuhan tersebut dapat memudar bahkan menghilang.

Bila penyesuaian diri, kesediaan diri, dan kepatuhan individu dalam kelompok telah memudar atau runtuh akan mengakibatkan frekwensi aktifitas individu dalam kegiatan kelompok keagamaan akan berkurang atau bahkan tidak melakukannya lagi.

METODE PENELITIAN

Metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan pendekatan psikofenomenologis.

Penelitian dilakukan Di Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah Medan, yang merupakan pusat/markas Jama’ah Tabligh di Medan, dan di berbagai mesjid di Kota Madya Medan dan sekitarnya yang menjadi lokasi kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.

Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah para anggota Jama’ah Tabligh yang berpusat di Jalan Gajah Medan. Penentuan sampel didasarkan pada teknik purposive, yakni dengan memilih sampel berdasarkan kriteria berikut :

  • Keterlibatan sampel dalam Jama’ah Tabligh lebih dari setahun.

  • Telah mengikuti lebih dari dua kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.

  • Profesi atau pekerjaan yang ditekuni berbeda dari setiap sampel yang diambil.

  • Usia berada pada tingkat remaja ke atas.

Sedangkan jumlah sampel yang diperlukan tergantung kepada objek dan kasus serta konteks informasi yang diperlukan.

Pemilihan informan diklasifikasikan dalam dua kategori data : data atau informasi tentang Jama’ah Tabligh akan diambil dari kalangan Jama’ah Tabligh. Untuk kategori ini kriteria yang ditetapkan adalah :

  • Informan telah menjadi anggota Jama’ah Tabligh lebih dari dua tahun

  • Sudah memiliki pengalaman sebagai pimpinan dalam kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.

Sedangkan data atau informasi yang berkaitan dengan respon masyarakat akan diambil dari masyarakat yang pernah menjadi sasaran dakwah Jama’ah Tabligh.

Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah : (1) Observasi partisipatif, yaitu peneliti secara aktif berpartisipasi dalam aktifitas-aktifitas Jama’ah Tabligh. Namun pada hari-hari pertama dalam kancah penelitian, peneliti tidak akan begitu aktif melibatkan diri. Ini untuk menjaga latar alamiah penelitian. (2) Wawancara mendalam akan dilakukan untuk menjaring data-data yang berhubungan dengan: arti personal setiap aktifitas bagi subjek; motif, tanggapan (persepsi), perasaan, pikiran, tujuan, subjek dalam menjalankan aktifitas.; kesan subjek terhadap masyarakat yang menjadi sasaran dakwah mereka dan usia keterlibatan subjek dalam Jama’ah Tabligh. (3) Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan penelitian ini.

Untuk menghidarkan distorsi data peneliti melakukan hal-hal berikut:

  • Tidak membicarakan hasil observasi kepada orang lain sebelum pencatatan data dilakukan.

  • Melakukan recheck tentang aktifitas subjek dan tentang perasaan, perkataan, pikiran, tanggapan dan pikiran informan.

  • Meminta bantuan orang lain untuk membaca catatan untuk mengoreksi: kekurangan data, kontadiksi data, hal-hal yang perlu penjelasan lebih rinci.

Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik yang dikembangkan oleh A. Michael Huberman dengan sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan waktu dan dana penelitian yang tersedia. Dalam bukunya Analisis Data Kualitatif, Mathew B. Miles dan A. Michael Huberman mengetengahkan tiga tahap analisa data, yaitu analisa selama pengumpulan data, analisis di dalam situs, dan analisis lintas situs. Namun dalam penelitian ini analisa dilakukan hanya dalam dua tahap, yakni analisa selama pengumpulan data dan analisa lintas situs.

Uji keabsahan data dilakukan sesuai dengan yang ajukan oleh Huberman, antara lain: memeriksa kerepresentatifan data, memeriksa pengaruh peneliti, melakukan triangulasi, memberi bobot pada bukti, membuat pertentangan /perbandingan, menyingkirkan hubungan palsu, mencari penjelasan tandingan, memberi bukti yang negatif, mendapatkan umpan balik dari informan.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Syeikh Muhammad Ilyas Kandahlawi (1885-1944 M) pendiri Jama’ah Tabligh dilahirkan di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ia adalah pengikut tariqat Chistiyyah dari cabang Sabiriyyah, namun ia tidak bergantung kepada ajaran tariqat ini saja melainkan turut memanfaatkan ajaran dari tariqat lain seperti Naqshabandiyyah, Qadiriyyah dan Suhrawardiyyah. Ayahnya bernama Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ruhaniwan besar dan seorang penganut tasawwuf yang sangat abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia yang suka menjalani hidup dengan ber-uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Alquran serta mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu agama. Ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah adalah seorang Hafidzah Alquran. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya.

Pada tahun 1351 H/1931 M, ia menunaikan haji yang ketiga ke Tanah Suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakan untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mengenalkan usaha dakwah. Sepulang dari haji, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jamaah dengan jumlah sekitar seratus orang. Dalam kunjungan tersebut ia selalu membentuk jamaah-jamaah yang dikirim ke kampung-kampung untuk ber-jaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama. Ia sepenuhnya yakin bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan.

Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, ia pulang ke rahmatullah sebelum adzan Shubuh. Ia tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikiran ia dituang dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Nu’mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini. Sepeninggal Syeikh Muhammad Ilyas Kandahlawi kepemimpinan JT diteruskan oleh puteranya, Syeikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917 – 1965 M).

Jama’ah Tabligh muncul di India dilatarbelakanngi keadaan umat Islam India yang saat itu sedang mengalami kerusakah akidah, dan degradasi moral yang dahsyat. Ummat Islam telah tidak akrab lagi dengan syiar-syiar Islam. Di samping itu, juga terjadi pencampuran antara yang baik dan yang buruk, antara iman dan syirik, antara sunnah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terlah terjadi gelombang pemusyrikan dan pemurtadan yang didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India.

Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendiskreditkan Rasulullah saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas menghawatirkan kondisi umat, khususnya di daerah Mewat yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam dan mengarah kepada kondisi masyarakat jahiliah yang ditandai antara dengan:

  • Kemusyrikan

  • Meninggalkan ibadah

  • Mesjid tidak lagi berfungsi sebagai pusat dakwah dan agama

  • Kerusakan akhlak

  • Perbuatan maksiat yang semakin menyebar

Hal ini kemudian menguatkan i‘tikadnya untuk berdakwah yang kemudian diwujudkannya dengan membentuk gerakan jama’ah pada tahun 1927 yang bertujuan untuk mengembalikan masyarakat dalam ajaran Islam. Guna menata kegiatan jama’ah ini dibentuklah suatu garis kerja dakwah jama’ah yang disebut hirarki, yang berbeda dari organisasi dakwah lainnya, yang kemudian dikenal dengan gerakan Jama’ah Tabligh.

Dalam Jamaah ini dikenal enam prinsip (doktrin) yang menjadi asas dakwahnya, yaitu:

  • Kalimah agung (syahadat) atau disebut sebagai Kalimah Ţayyibah.

  • Menegakkan salât.

  • Ilmu dan dzikir.

  • Memuliakan setiap Muslim.

  • Ikhlas.

  • Berjuang fisabilillah (keluar/khuruj).

Sejarah awal masuknya Jama’ah Tabligh ke Indonesia terdiri dari dua versi. Versi pertama: menurut Letkol CPM Purn. Ahmad Zulfakar, Jama’ah Tabligh dibawa oleh seorang amir bernama Miaji Isa pada tahun 1952 di Jakarta dan berkembang pada tahun 1974 di Kebon Jeruk. Kemudian berkembang luas ke penjuru nusantara. Versi kedua, Jama’ah Tabligh dibawa oleh Maulana Luthfi ur-Rahman dari Banglades pada tahun 1973 dalam kegiatan Khurujnya keliling Indonesia. Ia singgah di Tanjung Karang, diterima dengan baik oleh pengurus mesjid al-Abror Jl. Pemuda No. 20 Tanjung Karang, Lampung. Kemudian dilanjutkna oleh Dr. Abdul Hay, Dr. Abdul Rasyid, Prof. Dr. Ahmad Sabuur, Dr. Salman dari Universitas Alighard India.

Perkembangan Jama’ah Tabligh di Medan diawali dengan kedatangan Maulana Muhammad Ibrahim (yang sampai saat ini masih tetap menaruh perhatian besar atas perkembangan Jama’ah Tabligh) dari Banglore, India pada tahun 1971. Saat tiba di Medan ia disambut oleh masyarakat Medan dengan baik. Salah seorang yang sangat tertarik dengan tabligh ini adalah Haji Jalaluddin, sehingga dalam menyampaikan dakwahnya Maulana Ibrahim selalu ditemani oleh Haji Jalaluddin. Mereka kemudian membangun Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah Medan, yang kemudian menjadi pusat/markas Jama’ah Tabligh Medan. Maulana Ibrahim kemudian mencurahkan ilmunya pada Haji Jalaluddin, dan setelah ia yakin bahwa Haji Jalaluddin mampu mengembangkan Jama’ah Tabligh di Medan ia pun kembali ke negara asalnya. Haji Jalaluddin kemudian menjadi amir di Medan. Setelah ia meninggal jabatan amir diteruskan oleh anaknya Haji Badruddin.

Pengembangan dakwah yang berkesinambungan dan terus menerus menghasilkan perkembangan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di Medan. Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah – yang kemudian lebih dikenal dengan Mesjid Jalan Gajah – menjadi sentra perkembangan jama’ah ini. Berbagai halaqah kemudian berdiri diberbagai daerah di Medan dan sekitarnya, misalnya di Tanjung Mulia, Paya Pasir, dan Batang Kuis.

Sampai saat ini sulit untuk memastikan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di Medan. Hal ini karena Jama’ah Tabligh tidak mengenal sistem formalitas administrasi keanggotaan. Namun yang jelas anggotanya terdiri dari berbagai tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan mazhab atau aliran.

Struktur keorganisasi yang formal dan mengikat tidak dikenal di Jama’ah Tabligh, susunan keorganisasiannya didasarkan pada hirarki atau garis kerja jama’ah yang terdiri dari:

  1. Hadraji : orang yang dihormati

  2. Majelis syuro dan Zumidar : majelis musyawarah dan penanggungjawab di setiap negara, propinsi, dan kotamadya/kabupaten

  3. Karkun : ahli dakwah pada beberapa mahalla yang senantiasa menghidupkan amal maqomi.

Musyawarah rutin dilakukan oleh setiap halaqah untuk menata kerja dakwah. Keterkaitan antara halaqah sampai tingkat hadraji dihubungkan oleh musyawarah mufakat.

Peraturan dalam Jama’ah Tabligh disebut adab atau ushul da’wah – inilah yang menjadi ciri khas Jama’ah Tabligh – yang meliputi:

  1. Empat hal yang diperbanyak: dakwah, taklim, zikir ibadah, khidmat.

  2. Empat hal yang harus dikurangi: makan-minum yang berlebihan, istirahat/tidur, berbicara yang sia-sia/tidak perlu, keluar/meninggalkan mesjid.

  3. Empat hal yang harus dijaga: hubungan dengan amir dan jama’ah lainnya, amalan infiradi dan jama’I, kehormatan mesjid, sabar dan tahammul (tahan ujian).

  4. Empat hal yang harus ditinggalkan: meminta kepada yang selain Allah, mengharap kepada yang selain Allah, menggunakan barang orang lain tanpa izin, boros dan mubajir.

  5. Empat hal yang tidak boleh dibicarakan: politik, ikhtilaf, pangkat dan kedudukan, kebaikan atau jasa dan aib orang lain/masyarakat.

Aktifitas dan Metode Dakwah Jama’ah Tabligh di Medan

Aktifitas dakwah

Jama’ah Tabligh dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam selalu mengajak orang lain untuk bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh. Dakwah mereka sampaikan secara targhib (kabar gembira) yakni dengan memberikan informasi tentang hal-halyang membahagiakan apabila seseorang menjalani kehidupan sesuai dengan jalan Allah. Juga sebaliknya dengan tahrib (ancaman) yakni memberikan informasi tentang bentuk-bentuk penderitaan yang akan dialami seseorang yang keluar dari tuntunan Ilahi. Dari berbagai informan yang penulis temui orang-orang yang kemudian bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh merasa peningkatan keimanan dan keislamannya dan meninggalkan perbuatan maksiat dan sia-sia.

Mereka mendakwahkan Islam kepada masyarakat tanpa mempersoalkan aliran, mazhab, dan khilafiah. Memakmurkan mesjid merupakan salah satu aktifitas khas Jama’ah Tabligh yang dilakukan dalam setiap waktu salât, baik saat mereka di rumah maupun saat mereka berdakwah keluar. Jama’ah Tabligh dalam memakmurkan mesjid dengan mengisi amalan mesjid seperti ta’lim wa ta’lum (mengajar dan belajar) yang biasa dilakukan setelah melaksanakan salât wajib. Amalan mesjid yang lain yang mereka lakukan bila mukim di suatu mesjid adalah membaca al-Qur’ân, salât tahajud, salât dhuha, dan lain-lain. Salât berjama’ah dimesjid merupakan amal yang sangat disiplin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh baik saat berdakwah maupun saat di rumah. Pada umumnya sebelum azan mereka sudah datang ke mesjid. Bahkan ada sebagian Jama’ah Tabligh walaupun sedang berada di kenderaan umum mereka akan segera turun untuk ke mesjid bila mereka mendengar azan meski ia belum sampai ke tujuannya. Bagi Jama’ah Tabligh salât berjama’ah hukumnya wajib.

Zikir dan doa merupakan ibadah yang juga menduduki posisi penting bagi Jama’ah selain salât. Lafaz zikir yang selalu mereka lakukan adalah istighfar, tahmid, tasbih, takbir dan tahlil. Berdoa juga mereka lakukan secara teratur untuk membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah. Mereka berdoa dengan memenuhi adab-adabnya, yaitu: menyesuaikan waktu, tempat dan situasi untuk berdoa, mengangkat tangan, menghadap kiblat, yakin bahwa doa akan terkabul.

Membudayakan salam merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh Jama’ah Tabligh bukan saja terhadap sesama anggota tetapi juga terhadap sesama Muslim.

Setiap anggota Jama’ah Tabligh dilatih dengan pendekatan praksis untuk senantiasa beribadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Mereka saling mengingatkan satu sama lain tentang pengamalan ibadah-ibadah ini. Setiap anggota dilatih untuk mampu menyampaikan risalah dakwah tanpa mengenal batasan tingkat pendidikan formal maupun keluasan ilmu pengetahuan keislaman yang dimiliki. Bagi Jama’ah Tabligh, berdakwah bukan hanya dalam batas peribadatan, tetapi juga dengan memberikan teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam berakhlak.

Dalam bertutur sapa, Jama’ah Tabligh selalu memulai dengan menyebut asma dan sifat Allah. Misalnya mengucapkan Insya Allah bila berjanji atau merencanakan suatu kegiatan, alhamdulillah bila mendapatkan nikmat dan hal yang menyenangkan mereka atau menyenangkan orang lain, subhanallah bila mereka salut dan Allah Akbar bila mereka takjub akan kebesaran Allah. Dalam bertutur kata mereka cenderung randah hati, sopan dan menghargai pendapat orang lain, tidak cepat marah dan kalimat yang mereka ucapkan menyenangkan hati. Sedangkan dalam berbincang-bincang mengenai masalah agama dan dunia mereka seakan pasrah.

Dalam berpakaian dan berhias Jama’ah Tabligh lebih senang memakai gamis/jubah yaitu baju panjang sampai ke lutut dan dengan celana yang tidak sampai mata kaki. Karena mereka beranggapan bahwa memakai celana yang lewat mata kaki tempatnya di neraka. Jama’ah Tabligh mewajibkan bagi kalangan wanita mereka untuk menutup auratnya kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian ini mereka gunakan dalam semua aktifitas. Selain itu bagi laki-laki memakai lobe dan serban, namun lobe lebih sering digunakan untuk semua kegiatan sedangkan serban lebih sering digunakan saat mendengarkan pengajian. Mereka selalu menggunakan parfum yang bebas alkohol, menggunakan celak. Dalam menggosok bersugi, selain menggunakan sikat dan odol mereka juga menggunakan kayu siwak.

Dalam berjalan Jama’ah Tabligh selalu menundukkan kepalanya, hal ini dilakukan guna menghindarkan mata dari kemungkinan melihat hal-hal yang mungkar atau yang membangkitkan syahwat. Walaupun hal-hal semacam itu dinyatakan sebagai dosa kecil namun bila hal ini dilakukan terus menerus tentu dosa tersebut akan menjadi besar.

Dalam ta’lim mereka selalu mendekat dan merapat kepada nara sumber. Kegiatan ta’lim biasanya dilakukan setiap selesai salât fardhu. Umumnya salah seorang dari mereka menjadi “moderator” dan secara bergantian membaca kitab-kitab tertentu lalu mendiskusikannya. Bila mereka sedang muqim di suatu mesjid biasanya mereka akan memberikan ta’lim kepada jama’ah salât dengan menyampaikan satu hadits atau ayat al-Qur’ân. Dalam mendengarkan ta’lim mereka selalu menunduk, baik bila mereka memahami isi ta’lim maupun tidak.

Dalam Jama’ah Tabligh setiap anggota wajib memiliki sebuah buku, minimal Fadhilah Amal untuk bahan bacaan di rumah. Hal ini untuk menutupi sifat manusia yang pelupa agar tidak melupakan ajaran-ajaran Islam.

Saat makan mereka berkumpul membentuk lingkatan mengelilingi satu wadah – biasanya talam – dan mereka menggunakan tiga jari untuk menyuap nasi dan tidak menggunakan alat bantu makan seperti sendok, garpu. Adab duduk tatakala makan adalah menduduki kaki kiri dan kaki kanan dalam posisi seperti jongkok. Mereka tidak pernah menyisakan apapun dalam piring mereka, meskipun itu sebutir nasi. Sebagaian mereka hanya mempraktekkan cara makan ini tatkala di luar rumah, namun bila mereka berada di rumah mereka makan seperti umumnya orang lain makan, dengan lima jari atau menggunakan alat bantu makan, dan duduk bersila atau di atas kursi. Yang terasa dari makan bersama adalah pembentukan kebersamaan dan ukhuwah yang semakin tinggi.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dibentuk oleh setiap Jama’ah Tabligh. Kesederhanaan ini bukan saja dalam berpakaian dan makan, namun juga tidak membelanjakan harta dengan sia-sia tanpa manfaat bagi agama Islam.

Mengeluarkan harta di jalan Allah merupakan sikap yang terus menerus mereka pupuk dalam upaya menegakkan syiar dan kejayaan Islam.

Aktifitas-aktifitas lain yang mereka lakukan antara lain:

  1. Musyawarah harian dan mingguan

  2. Khususi, yaitu melakukan kunjungan atau silaturahmi dengan orang-orang islam yang ada di tempat yang mereka tuju.

  3. Khuruj, yakni kegiatan dakwah yang dilakukan di luar lokasi tempat tinggal.

  4. Jaulah, yakni kegiatan yang dilakukan secara berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengajak umat Islam salât di mesjid sekaligus untuk mendengarkan bayan atau ceramah agama yang disampaikan setelah salât fardhu.

  5. Ta’lim, yakni penyampaian materi dengan menelaah kitab-kitab tertentu yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan amal.

  6. Bayan setelah salât fardhu. Ini dilakukan bukan saja saat mereka di Mesjid, sebagian anggota Jama’ah Tabligh juga melakukan bayan di rumah setiap hari, umumnya setelah salât Maghrib.

  7. Malam markas, yaitu pertemuan yang dilakukan pada malam hari oleh anggota Jama’ah Tabligh. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali dimulai dari sesudah ‘Asar sampai menjelang Zuhur keesokan harinya.

  8. Masturah, yakni kegiatan dakwah bagi sepasang suami istri. Bila wanitanya adalah anggota Jama’ah Tabligh dan suaminya bukan, maka ia harus menyertakan suaminya dan atau keluarga mereka yang wanita. Kegiatan ini hanya boleh dilakukan bagi mereka yang sudah berkeluarga dan disertai suami.

Bila diuraikan secara spesifik, metode atau cara-cara yang diterapkan Jama’ah Tabligh dalam transformasi ajaran Islam untuk mencapai tujuan dakwah antara lain:

  • Metode uswah/teladan

  • Metode ceramah

  • Metode mengajak.

  • Metode muzakarah.

  • Metode taskil

  • Metode dor to dor

  • Metode maw’idzah/pengajaran

  • Metode Tabsyir

  • Metode indzâr

  • Metode Kisah-kisah.

  • Metode Nasihat.

  • Metode Pembiasaan.

Respon Masyarakat

Respon masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh yang dapat dikategorikan sebagai berikut:

Menolak

Tingkat penolakan yang paling ekstrim adalah yang menyatakan bahwa Jama’ah Tabligh adalah aliran sesat, sebagian menyatakan bahwa Jama’ah Tabligh tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini mereka nyatakan karena melihat fenomena bahwa sebagian anggota Jama’ah Tabligh yang mengabaikan dan menelantarkan keluarga, menelantarkan studi, dan meninggalkan pekerjaan.

Menerima secara aktif.

Anggota masyarakat jatuh cinta kepada gerakan dakwah Jama’ah Tabligh dan kemudian mengikuti kegiatan dakwah saat mereka berdakwah di lokasi tempat tinggalnya. Ini kemudian diteruskan dengan keikutsertaannya menjadi anggota Jama’ah Tabligh. Mereka yang menerima aktif ini dapat dikategotikan dalam tiga latar belakang:

Golongan yang memang sudah menjalankan ibadah Islam dengan baik namun kemudian merasakan kelezatan iman yang lebih tinggi saat mengikuti kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.

Golongan yang masih labil pelaksanaan ajaran Islam yang kemudian termotivasi karena selama pergaulannya dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pengingkatan keislaman dan keimanan.

Golongan yang sama sekali tidak mengamalkan ibadah atau ajaran Islam dan bahkan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian selama pergaulan dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pencerahan spiritual.

Menerima dengan pasif.

Yakni anggota masyarakat yang tercerahkan dengan kehadiran Jama’ah Tabligh dan selalu hadir dalam pengajian Jama’ah Tabligh di daerahnya namun tidak terlibat aktif dalam aktifitas dakwah.

Acuh tak acuh.

Ini adalah golongan yang baginya ada atau tidak Jama’ah Tabligh di daerahnya dia tidak ambil pusing, tidak menolak dan tidak menerima, dan tidak memberikan komentar dan respon apapun.

Kritik masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh adalah: Pertama, Jama’ah Tabligh hendaknya sebelum melakukan dakwah keluar meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga, dan bagi yang sudah berkeluarga hendaknya tidak meninggalkan keluarga lebih dari satu minggu. Kedua, Jama’ah Tabligh jangan melupakan membimbing keluarga dalam keislaman, jangan terlena mendakwahi orang lain tapi melupakan keluarga. Ketiga, tidak membolehkan anak-anak turut dalam kegiatan dakwah karena hal ini memberatkan anak-anak khusunya bagi anak-anak yang masih bersekolah. Keempat, hanya membolehkan para pelajar berdakwah keluar saat mereka sedang libur sekolah. Kelima, menekankan kepada anggotanya akan pentingnya pencapaian dunia, kesalahan bukan terletak pada pencapaian dunia melainkan pada penggunaan pencapaian dunia itu untuk tujuan di luar jalan Allah. Keenam, tidak membolehkan anggota yang pengetahuan keislamannya rendah berdakwah karena dapat menyesatkan umat. Ketujuh, mengarahkan anggotanya pada rujukan-rujukan sumber ajaran Islam, al-Qur’ân dan Hadits yang benar, bukan hadits-hadits yang lemah apalagi palsu. Kedelapan, meskipun Jama’ah Tabligh tidak membicarakan dan terlibat politik namun harus memberikan kemerdekaan bagi anggotanya untuk berkegiatan politik, karena kekuasaan itu juga dapat digunakan untuk penyebaran Islam, khususnya untuk menegakkan khilafah islamiyah. Kesembilan, upaya mewajibkan anggota untuk bertaqlid bertentangan dengan ititba’. Kesepuluh, Jama’ah Tabligh terlalu terfokus pada kesalehan individual dengan mengabaikan aspek-aspek politik, jihad, dan ekonomi. Kesebelas, Jama’ah Tabligh terlalu sempit dalam memahami dakwah yang terbatas pada bidang yang parsial dan tidak universal. Dan pola dakwah yang mereka terapkan masih konservatif dengan hanya melanjutkan dan mempertahankan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan Rasulullah saw tanpa ada usaha untuk melakukan ijtihad dengan menyesuaikan dengan keadaan yang berlaku di zaman sekarang.

KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai lembaga dakwah yang berasal dari Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India., Jama’ah Tabligh terdiferensiasi dengan lembaga-lembaga lainnya dalam beberapa hal:

  1. Lahir bukan atas latar belakang politis dan menjauhi hal-hal yang berhubungan dengan politik dan bahkan melarang anggotanya untuk tidak terlibat dalam politik.

  2. Garis kerja dakwah (hirarki) tidak sama dengan lembaga lain baik dalam sistem dan peraturannya, serta kualitas pengorbanan harta, jiwa, raga, dan waktu dalam berdakwah.

  3. Sikap dan prilaku yang diaktualisasikan sebagai Muslim dengan menjalankan amalan-amalan wajib dan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang sia-sia/tidak bermanfaat selama 24 jam.

  4. Karakteristik kepribadian islami yang kemudian menjadi budaya jama’ah tercermin dari ketulusan hati, tanggung jawab, integritas, kejujuran, kecermatan, menepati janji, mengontrol diri, rendah hati, sabar, tabah, berani, sederhana, kerja keras dan persaudaraan. Kesemuanya tertuang secara melembaga dalam adab-adab ushul dakwah, khidmat, ikrâm, dan tasykil.

  5. Selain dakwah melalui komunikasi kepada masyarakat mereka juga berdakwah melalui pelestarian nilai-nilai dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dimana mereka berada.

  6. Perilaku interpersonal anggota Jama’ah Tabligh memberikan penguatan (reinforcement) dan dorongan dalam mewujudkan interaksi kelompok dalam keberagamaan.

  7. Realisasi ajaran-ajaran Islam yang dilakukan bukan sekedar ritual mekanis melainkan lebih dari itu merupakan upaya pelestarian dan perbaikan individu dan masyarakat.

  8. Dalam transformasi nilai-nilai dan ajaran Islam Jama’ah Tabligh menerapkan berbagai metode dakwah.

Dari sisi transformasi nilai-nilai dan ajaran Islam, Jama’ah Tabligh mengaplikasikan behavioral learning ini sebagai berikut:

  1. Pengalaman-pengalaman baru yang dibentuk adalah pengalaman-pengalaman yang melahirkan ketenangan jiwa dalam pengamalan ajaran-ajaran Islam, yang selanjutnya menghasilkan internalisasi nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam dalam diri setiap Muslim.

  2. Asosiasi baru yang dibentuk adalah asosiasi yang positif dan membahagiakan antara kognisi, afeksi, emosi, dan psikomotor seorang Muslim dengan agama Islam.

  3. Kecenderungan baru yang akan dibentuk adalah kecenderungan untuk selalu menggapai ridha Ilahi dengan melakukan amalan-amalah shalih dimanapun berada, baik di rumah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, mesjid, lingkungan belajar, Dan sebagainya.

  4. Habitat baru yang dibentuk adalah habitat /masyarakat terbaik atau masyarakat Muslim yang menyahuti tuntutan Allah.

Dalam mengkaji respon masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh harus dilihat secara objektif, terbuka, toleran, dengan pemaham luas tentang Jama’ah Tabligh, dan dengan melihat latar belakang anggotanya secara individual. Hal ini perlu, mengingat pandangan negatif tentang Jama’ah Tabligh sebagian dihasilkan karena kesalahan generalisasi, yakni menjadikan kasus perorangan berlaku untuk semua anggota Jama’ah Tabligh.

Secara umum, hasil yang dicapai bagi setiap individu dan masyarakat sasaran dakwah Jama’ah Tabligh dapat dirangkumkan sebagai berikut:

  1. Masyarakat semakin gemar melakukan amal ibadah.

  2. Salât berjamaah semakin hari semakin hidup di mesjid.

  3. Peningkatan jumlah jama’ah mesjid.

  4. Suasana keislaman di masyarakat mulai hidup.

  5. Penurunan tingkat kenakalan remaja

  6. Semangat menggali pengetahuan keislaman semakin tinggi

  7. Peningkatan ukhuwah islamiyah dan silaturahmi.

Dari pantauan berkala di masyarakat, penulis melihat bahwa hasil di atas relatif tidak permanen bagi sebagian besar anggota masyarakat. Beberapa hari setelah Jama’ah Tabligh meninggalkan lokasi, hanya sebagaian kecil anggota masyarakat yang tetap menunjukkan hasil pendidikan dakwah Jama’ah Tabligh tersebut. Namun bagi warga masyarakat yang kemudian terus mengikuti kegiatan dakwah mereka dan apalagi bagi anggota Jama’ah Tabligh hasil di atas bersifat permanen, bahkan terus menerus ditingkatkan.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prilaku dalam bentuk aktifitas keagamaan yang dibudayakan Jama’ah Tabligh merupakan salah satu bentuk terapi kesehatan jiwa dari perspektif Psikologi Agama. Mereka adalah orang-orang yang telah didakwahi dan kemudian mendakwahi, diobati dan kemudian mengobati, diishlahkan kepribadiannya dalam pelukan iman dan kemudian mengishlahkan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang meleburkan ego individunya dan membentuknya menjadi suatu impresi keanggotaan kolektif. Sehingga dakwah yang dilakukan tidak lagi dipandang sebagai aktifitas individu melainkan aktifitas kelompok. Kebanggaan individu lebur menjadi kebanggaan kelompok yang selanjutnya akan membentuk kebanggaan keislaman. Dari sisi ini dan dari sisi bahwa aktifitas-aktifitas Jama’ah Tabligh menyebar di masyarakat, maka dapat dikatakan mereka adalah “dokter” kesehatan jiwa masyarakat.

Pustaka Acuan

Baron, Robert A. dan Donn Byrne, Social Psychology: Understanding Human Interaction, Edisi VI, Boston: Allyn and Bacon, 1991.

Bischof, Ledford J., Adult Psychology, edisi 2. New York: Harper and Crow, 1976.

Bodgan, Robert dan Steven J. Taylor, Kualitatif: Dasar-dasar Penelitian, terj. A. Khozin Afandi, Surabaya: Usaha Nasional, 1993.

Crapps, Robert W., An Introduction to Psychology of Religion, Macon, Georgia, Mercer University Press, 1986.

David, Linda L., Introduction to Psychology, edisi 3, New York: McGraw-Hill, Inc., 1976.

Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, jilid 2, Jakarta: Anda Utama, 1993.

Erikson, E. H., The Life Cycle Completed: A Review, New York: W.W. Norton, 1982.

Frager, Robert, Heart, Self, and Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance and Harmony, terj. Hasmiyah Rauf, Jakarta: Serambi, 2002.

Fromm, Erich, Psychoanalysis and Religion, New Haven: Yale University Press, 1950.

Fromm, Erich, The Art of Loving, New York: Harper and Row, 1956.

Gazalba, Sidi, Mesjid Sebagai Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1975.

Goldman, Ronald, Religious Thinking from Childhood to Adolescence, New York: Seabury Press, 1964.

Hassan, A., Tarjamah Bulughul Maram, Bandung: Diponegoro, 1983.

Henderson, Joseph L., Cultural Attitudes in Psychological Perspective, Toronto: Inner City Books, 1983.

Huberman, A. Michael dan Mathew B. Miles Analisis Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohidi, Jakarta: UI Press, 1992

Hurlock, Elizabeth B., Developmental Psychology: A Life Span Approach edisi V, terj. Istiwidayanti dan Soedjarwo, Jakarta: Erlangga, 1994.

Ibrahim, Edi Subandy, dkk, Ekstasi Gaya Hidup: Kebudayaan Populer dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Bandung: Mizan, 1997.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Edisi Revisi, Jakarta: Rajawali Press, 2004.

an-Nadwi, Abul Hasan Ali, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, edisi terjemahan, cet 1, Darun Nukman: Kuala Lumpur, 1991.

O’Dea, Thomas F., The Sociology of Religion, New Jersey: Prentice Hall, 1966.

Piaget, Jean Piere, The Moral Judgment of the Child New York: Harcourt, Brace and World, 1932.

Scobie, Geoffrey E.W., Psychology of Religion, London: B.T. Batsford, 1975.

Spilka, Bernard, dan Daniel N. McIntosh, The Psychology of ReligionL Theoritical Approach, Colorado: Westview Press, 1997.

Tajfel, Henri, The Social Dimension, jilid I, Cambridge: Cambridge University Press, 1984.

Thoules, Robert H., An Introduction to Psychology of Religion, Cambridge: Cambridge University Press, 1979.

Weiten, Wayne, Psychology Applied to Modern Life, Edisi II, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1985.

Yinger, J.M., Religion, Society and the Individual, New York: Macmillan, 1957.

Kategori:Masjid Ittihaad
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.